A. Muqaddimah
Nabi Adam dan Siti Hawa sebagai manusia pertama
menghuni dunia dengan tekun telah menata sejarah kehidupan manusia tahap demi
tahab dengan tatanan yang perspektif. Tatanan kehidupan manusia melalui tata
cara yang selalu berkembang sesuai dengan situasi dan kondisinya. Tatanan
kehidupan yang tertata baik dan terarah merupakan sendi-sendi manajemen yang
tidak bisa terpisahkan dengan kehidupan manusia.
Tatanan kehidupan manusia dari berbagai
bentuknya secara serta merta tidak akan terlepas dengan yang namanya manajemen
dari bentuk dan keadaan yang multi dimensi. Tentunya manajemen menjadi
keniscayaan bagi kehidupan manusia untuk selalu di inovasi sesuai dengan
perkembangan zaman, sehingga manajemen bisa memberi manfaat yang lebih baik.
B. Manajemen dalam Islam
1. Pengertian manajemen
Manajemen menjadi sangat penting artinya dari
segala aspek kehidupan. Karena itu manajemen menjadi icon yang urgen baik
secara individual maupun secara kelompok. Para ilmuan bermacam-macam dalam
mendefinisikan manajemen walaupun esensinya bermuara para satu titik temu.
Pengertian manajemen yang paling sederhana
“adalah seni memperoleh hasil melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh
orang lain.” Menurut John D Millet, “manajemen ialah suatu proses pengarahan
& pemberian fasilitas kerja kepada orang-orang yang telah diorganisasi
dalam kelompok-kelompok formal yang mencapai tujuan yang diharapkan.” James F.
Stoner, berpendapat bahwa “manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengawasan para anggota dan sumber daya lainnya untuk mencapai
tujuan organisasi yang telah ditetapkan.” Menurut George R. Terry bahwa
“manajemen adalah pencapaian tujuan yang ditetapkan terlebih dahulu dengan
mempergunakan orang lain.”
Dari beberapa definisi tersebut bisa dipetakan kepada tiga hal, yaitu; Pertama,
manajemen sebagai ilmu pengetahuan bahwa manajemen memerlukan ilmu pengetahuan.
Kedua, manajemen sebagai seni dimana manajer harus memiliki seni atau
keterampilan memanej. Ketiga, manajemen sebagai profesi, bahwa manajer yang
profesiaonal yang bisa memanej secara efektif dan efesien.
Dalam konteks Islam manajemen disebut juga
dengan (سياسة- إدارة – تدبير) yang bersal dari lafadz (ساس – أدار –
دبر). Menurut S. Mahmud
Al-Hawary manajemen (Al-Idarah) ialah;
االإدارة هي معرفة إلى أين تذهب ومعرفة المشاكل التي
تجنبها ومعرفة القوي والعوامل التي تنعرض لها معرفة كيفية التصرف لك ولبا خرتك
والطاقم الباحرة وبكفاءة وبدون ضياع في مرحلة الذهاب إلى هناك.
Artinya: manajemen adalah mengetahui kemana yang dituju, kesukaran apa yang
harus dihindari, kekuatan-kekuatan apa yang dijalankan, dan bagaimana
mengemudikan kapal anda serta anggota dengan sebaik-baiknya tanpa pemborosan
waktu dalam proses mengerjakannya.
Dari ta’rif di atas memberi gambaran bahwa
manajemen merupakan kegiatan, proses dan prosedur tertentu untuk mencapai
tujuan akhir secara maksimal dengan bekerja sama sesuai jobnya masing-masing.
Maka kebersamaan dan tujuan akhirlah yang menjadi fokus utama.
2. Sarana Manajemen
Untuk mencapai tujuan manajemen tidak hanya
terfokus kepada manusia sebagai manajer dan anggota pelaksana lain sebagaimana
definisi manajemen. Namun disamping itu juga memerlukan sarana-sarana yang lain
yang erat hubungannya dengan pencapaian tujuan. Sehingga sarana-sarana
manajemen menjadi kesatuan yang tidak terpisahkan antara satu sarana dengan
sarana lainnya.
Adapun sarana-sarana itu meliputi; “Men, Money,
Material, Methods dan Markets. Kesemuanya itu disebut sumber daya.” Dari lima
sarana tersebut atau disebut dengan 5 M saling terkait. Hal ini menunjukkan
betapa urgennya adanya 5 M tersebut bisa berjalan secara integral.
Men (manusia) sebagai sumber daya utama yang mengatur dan menggerakkan segala
aktifitas. Money (uang) merupakan sarana yang selalu mengiringi segala
aktifitas seseorang. Material (materi) atau bahan-bahan merupakan sarana
manajemen yang bisa merespons terhadap perkembangan zaman. Methods, (metode)
sebagai sarana manajemen dalam upaya efesiensi dan tepat guna dalam pencapaian
tujuan. Dan yang terakhir Markets (pasar) bagaiamana hasil dari organisasi
tersebut benar-benar bermanfaat dan dibutuhkan oleh masyarakat.
3. Fungsi-Fungsi Manajemen
Manajemen memiliki beberapa fungsi yang terkait
dengan pencapaian tujuan. Para ilmuan memiliki beragam pendapat tentang
fungsi-fungsi manajemen atau juga disebut dengan unsur-unsur manajemen.
Menurut Louis A. Allen dalam bukunya Management
and Organization menegemukakan tentang element of Management terdiri dari;
“Planning, (perencanaan), Organization (pengorganisasian), Coordination
(Koordinasi), Motivating (motivasi), Controling (pengawasan) atau disingkat
dengan POCMC. Kemudian menurut George R. Terry “Planning, Organizing,
Actuating, Controling, atau disingkat dengan POAC. Sedangkan menurut James A.F.
Stoner bahwa fungsi manajemen meliputi, “Planning, Organizing, Leading,
Controling” atau disingkat dengan POLC. Dari beberapa unsur/ fungsi manajemen
akan mengantarkan kepada tujuan yang diharapkan oleh suatu institusi/
organisasi tertentu.
Dalam konteks Islam manajemen memiliki
unsur-unsur yang tidak jauh berbeda dengan konsep manajemen secara umum. Hal
ini telah tertuang dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai falsafah hidup umat
Islam. Unsur-unsur tersebut diantaranya;
Pertama (التخطيط) atau Planning; yaitu perencanaan/
gambaran dari sesuatu kegiatan yang akan datang dengan waktu, metode tertentu.
Sebagaimana Nabi telah bersabda: (إن الله يحب إذا عمل
أحدكم العمل أن يتقنه)
Artinya: Sesungguhnya Allah sangat mencintai
orang yang jika melakukan sesuatu pekerjaan , dilakukan secara itqan (tepat,
tearah, jelas, tuntas. (HR. Thabrani).
Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, (فإذافرغت فانصب وإلى ربك فارغب)
Artinya: Maka apabila kamu telah selesai (dari
suatu urusan) kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya
kepada Tuhanlah hendaknya kamu berharap. (Al-Insyirah; 7-8)
Setiap apa yang diperbuat oleh manusia maka ia
harus mempertanggung jawabkannya. Agama mengajarkan umatnya untuk membuaat
perencanaan yang matang dan itqan, karena setiap pekerjaan akan menimbulkan
sebab akibat. Adanya perencanaan yang baik akan menimbulkan hasil yang baik
juga sehingga akan disenangi oleh Allah. Tentunya penilaian yang paling utama
hanya penilaian yang datangnya dari Allah SWT.
Kedua, (التنظيم) atau Organization; merupakan wadah tetang
fungsi setiap orang , hubungan kerja baik secara vertikal atau horizontal.
Dalam surat Ali Imran Allah berfirman (واعتصموابحبل
الله جميعا ولاتفرقواواذكروا نعمت الله عليكم إذكنتم أعداء…)
Artinya: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada
tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat
Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan… (Ali
Imran; 103)
Ayat di atas menunjukkan bahwa organisasi
merupakan kumpulan orang-orang yang bisa diorganisir dengan baik. Maka
hendaknya bersatu-padulah dalam bekerja dan memegang kometmen untuk menggapai
cita-cita dalam satu payung organisasi dimaksud.
Allah berfirman; ( لايكلف الله نفسا إلا وسعهالهاماكسبت
وعليها مااكتسبت…)
Artinya: Allah tidak membebani seseorang
melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan)
yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
(Al-Baqarah; 286)
ِ Kinerja bersama dalam organisasi disesuai
dengan kemampuan yang dimiliki olah masing-masing individu. Menyatukan langkah
yang berbeda-beda tersebut perlu ketelatenan mengorganisir sehingga bisa
berkompetitif dalam berkarya. Disamping ayat di atas, Sayyidina Ali bin Abi
Thalibmembuat statemen yang terkenal yaitu; (الحق بلا
نظام يغلبه الباطل بنظام)
Artinya: Kebenaran yang tidak terorganisasi dengan rapi, dapat dikalahkan oleh
kebatilan yang diorganisasi dengan baik.
Statemen Sayyidina Ali merupakan pernyataan
yang realistis untuk dijadikan rujukan umat Islam. Hancurnya suatu institusi yang
terjadi saat ini karena belum berjalanannya ranah organisasi dengan menggunakan
manajemen yang benar secara maksimal.
Ketiga, (التنسيق) atau Coordination, upaya untuk mencapai hasil yang baik dengan
seimbang, termasuk diantara langkah-langkah bersama untuk mengaplikasikan
planning dengan mengharapkan tujuan yang diidamkan. Allah berfirman; (يأيهاالذين أمنواادخلوا فى السلم كافة ولا تتبعوا خطوات
الشيطان إنه لكم عدو مبين)
Artinya; Hai orang-orang yang beriman, masuklah
kamu kedalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah
setan, karena setan itu musuhmu yang nyata. (Al-Baqarah; 208)
Apabila manusia ingin mendapat predikat iman
maka secara totalitas harus melebur dengan peraturan Islam. Iman bila
diumpamakan dengan manusia yang ideal dan Islam sebagai planning dan
aturan-aturan yang mengikat bagi manusia, maka tercapainya tujuan yang mulia,
memerlukan adanya kordinasi yang baik dan efektif sehingga akan mencapai kepada
tujuan ideal. Cobaan dan kendala merupakan keniscayaan, namun dengan manusia
tenggelam dalam lautan Islam (kedamaian, kerjasama dan hal-hal baik lainnya)
akan terlepas dari kendala-kendala yang siap mengancam.
Keempat, (الرقابة) atau Controling , pengamatan dan
penelitian terhadap jalannya planning. Dalam pandangan Islam menjadi syarat
mutlak bagi pimpinan untuk lebih baik dari anggotanya, sehingga kontrol yang ia
lakukan akan efektif. Allah berfirman (يأيهاالذين
أمنوالم تقولون مالاتفعلون)
Artinya; Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang
tidak kamu kerjakan? (Q.S. Ash-Shoff; 1)
Dalam surat At-Tahrim Allah berfirman (يأيهاالذين أمنواقواانفسكم وأهليكم نارا..)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman,
peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (Q.S. At. Tahrim; 6)
Menjaga keselamatan dan kesuksesan institusi
merupakan tugas utama manajer, baik organisasi keluarga maupun organisasi
secara universal. Bagaimana manajer bisa mengontrol orang lain sementara
dirinya masih belum terkontrol. Dengan demikian seorang manajer orang terbaik
dan harus mengontrol seluruh anggotanya dengan baik.
Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan bahwa
kontrol yang utama ialah dari Allah SWT. (ألم تر أن
الله يعلم مافى السموات وما فى الأرض…)
Artinya: Tidaklah kamu perhatikan bahwa
sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi…
(Al-Mujadalah; 7)
Dalam konteks ayat ini sebenarnya sangat cukup
sebagai konsep kontrol yang sangat efektif untuk diaplikasikan. Memahami dan
membumikan konteks ayat ini menjadi hal yang sangat urgen. Para pelaksana institusi
akan melaksanakan tugasnya dengan konsisten sesuai dengan sesuatu yang
diembannya, bahkan lebih-lebih meningkatkan spirit lagi karena mereka
menganggap bahwa setiap tugas pertanggung jawaban yang paling utama adalah
kepada Sang Khaliq yang mengetahui segala yang diperbuat oleh makhluk-Nya.
Kelima, (ترغيب) atau Motivation, menggerakan kinerja semaksimal mungkin dengan
hati sukarela. Masalah yang berhubungan dengan motivasi Allah telah berfirman;
(وأن ليس للإنسان إلا ما سعى)
Artinya: Dan bahwasanya mausia tiada memperoleh selain dari apa yang telah
diusahakannya. (Q.S. An-Najm; 39)
Dalam ayat yang lain Allah berfirman: (إن الله لايغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم)
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengobah
sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. (Q.S. Ar-Ra’du; 11)
Dari dua ayat tersebut di atas berimplikasi
adanya motivasi untuk selalu berusaha dan merobah keadaan. Dengan adanya usaha
dan adanya upaya merobah keadaan ke rarah yang lebih baik akan mengantarkan
kepada tujuan dan kesuksesan yang nyata.
Dalam sebuah kata hikmah disebutkan (من جد وجد)
Artinya: Barang siapa yang bersungguh-sungguh
pasti mendapatkan.
Disamping itu Allah berfirman; (أدعوني أستجب لكم)
Artinya; Mintalah kamu semua kepada-Ku pasti
akan Aku kabulkan padamu. (Q.S.)
Dalam ayat yang lain Allah SWT., juga berfirman yang ada kaitannnya dengan
motivasi, (فمن يعمل مثقال ذرة خيرايره. ومن يعمل مثقال
ذرة شرايره)
Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan
seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barang siapa
yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat
(balasan)nya pula. (Q.S. Az-Zalzalah; 7-8)
Dari uraian di atas merupakan bentuk anjuran
Islam bagi umat manusia untuk memiliki motivasi dalam menjalani hidup. Dengan
tingginya semangat dan motivasi sebagai modal awal dalam meraih kehidupan yang
lebih cerah dan terarah. Dengan demikian bahwa planning yang menjadi acuan
utama akan dengan mudah untuk bisa direalisasikan, karena dengan berdasarkan
agama, motivasi manusia tidak sekedar hanya tumenyelesaikan ntutan duniawi
saja, tetapi juga terhadap pertanggung jawaban ukhrawinya.
Keenam (الخلافة) atau disebut Leading, mengatur, memimpin
segala aktifitas kepada tujuan. Dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits banyak membahas
tentang kepemimpinan. Diantaranya firman Allah SWT., dalam surat Al-An’am
sebagai berikut; (وهوالذي جعلكم خلائف الأرض ورفع بعضكم
فوق بعض درجات ليبلوكم فى مااتاكم)
Artinya; Dialah yang menetapkan kamu menjadi
penguasa di muka bumi, dan ditinggikan-Nya sebagaian kamu atas sebagian yang
lain beberapa derajat, sebagai cobaan bagimu tentang semua yang diberikannya
kepadamu. (Al-An’am; 165)
Selain dalam Al-Qur’an, Al-Hadits juga banyak
yan membahas tentang kepemimpinan, diantaranya; (كلكم
راع وكلكم مسؤل عن رعيته)
Artinya: Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap
kamu akan diminta pertanggungjawaban mengenai orang yang kamu pimpin. (HR.
Muslim)
Dalam konsepi ajaran Islam bahwa pemimpin tidak
hanya terfokus kepada seseorang yang yang memimpin institusi formal dan non
formal. Tuntutan Islam lebih uiversal bahwa kepemimpinan itu lebih spesifik
lagi kepada setiap manusia yang hidup ia sebagai pemimpin, baik memimpin
dirinya maupun kelompoknya.
Dengan demikian kepemimpinan dalam ajaran Islam
dimulai dari setiap individu. Setiap orang harus bisa memimpin dirinya dari
taqarrub kepada Allah dan menjahui larangan-Nya. Apabila manusia sudah bisa
memeimpin dirinya, maka tidak mustahil bila ia akan lebih mudah untuk memimpin
orang lain. Disamping itu pertanggungjawaban pemimpin dalam konteks Islam tidak
serta merta hanya kepada sesama manusia, tetapi yang paling utama adalah pertanggungjawaban
kepada Khaliknya.
C. Urgensi Manajemen dalam IslamPada dasarnya
ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah juga ijma’ ulama
banyak mengajarkan tentang kehidupan yang serba terarah dan teratur. Dalam
pelaksanaan shalat yang menjadi icon paling sakral dalam Islam merupakan contoh
konkrit adanya manajemen yang mengarah kepada keteraturan. Puasa, haji dan
amaliyah lainnya merupakan pelaksanaan manajemen yang monomintal.
Teori dan konsep manajemen yang digunakan saat
ini sebenarnya bukan hal yang baru dalam perspektif Islam. Manajemen itu telah
ada paling tidak ketika Allah menciptakan alam beserta isinya. Unsur-unsur
manajemen dalam pembuatan alam serta makhluk-makhluknya lainnya tidak terlepas
dengan manajemen langit. Ketika Nabi Adam sebagai khalifah memimpin alam raya
ini telah melaksanakan unsur-unsur manajemen tersebut.
Contoh kecil realisasi manajemen seperti
digambarkan oleh makhluk ciptaan Allah berupa semut. Dalam menjalankan hidupnya
semut termasuk diantara makhluk yang sangat solid dan berkomitmen menjalani
roda kehidupannya dengan menggunakan manajemen, tentunya versi semut.
Keteraturan dan komitmen semut dalam kinerjanya sangat solit dan penuh
kepatuhan.
Caryle P. Haskins, Ph.D., kepala Institut Carnegie di Washington menyatakan,
“Setelah 60 tahun mengamati dan mengkaji, saya masih takjub melihat betapa
canggihnya perilaku sosial semut … Semut merupakan model indah untuk kita
gunakan dalam mempelajari akar perilaku hewan.”
Semut tunduk pada sistem kasta secara ketat (kasta ratu dan jantan, prajurit,
dan pekerja). ”Semut memiliki sub kelompok, sub kelompok ini disebut budak,
pencuri, pengasuh, pembangunan, dan pengumpul. Setiap kelompok memiliki tugas
sendiri. Sementara satu kelompok berfokus sepenuhnya melawan musuh atau
berburu, kelompok lain membangun sarang, dan yang lain lagi memelihara sarang.
Apabila semut bisa melaksanakan manajemen yang
hebat, tentunya manusia yang berakal mestinya akan lebih mudah untuk
melaksanakan manajemen. Kalau sudah ada niat, dan niat itu benar-benar
dioptimalkan tentunya tidak ada yang sukar untuk mencapai keinginan. Dengan
demikian apabila manusia memiliki himmah yang kuat dan menyandarkan segala
perbuatannya hanya karena Allah SWT., insya Allah segala usaha manusia akan
tercapai dengan efektif dan efesien. Wallahu a’lam.
DAFTAR PUSTAKA
Sondang P.
Siagian, 1990, Fungsi-Fungsi Manajerial, Jakarta, Bumi Aksara
Bedjo Siswanto, 1990, Manajemen Modern, Bandung, Sinar Baru
Lasa HS, 2005, Manajemen Perpustakaan, Yogyakarta, Gama Media
M. Manulang, 1988, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta Timur, Ghalia Indonesia,
Cet., XIII
Al-Asri Al-Jadid, Ingklizikh wal Arabiyah, 1968, Beirut, Darul Fikr
Jawahir Tanthowi, 1983, Unsur-Unsur Manajemen Menurut Ajaran Al-Qur’an,
Jakarta, Pustaka Al-Husna
Ek. Mochtar Effendy, 1986, Manajemen; Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran
Islam, Jakarta, Bhratara Karya Aksara
M. Sayyid Ahmad al-Hasyimi, tt., Mukhtarul Ahaadits wa al-Hukmu
al-Muhammadiyah, Surabaya, Daar an-Nasyr al-Misriyah
Didin Hafidhuddin & Hendri Tanjung, 2003, Manajemen Syari’ah dalam Praktek,
Jakarta, GIP
Harun Yahya, http: // http://www.harunyahya.com/indo/buku/semut03.htm.
Ahmad Djalaluddin, 2007, Manajemen Qur’ani; Menerjemah Ibadah Ilahiyah dalam
Kehidupan, Malang, Malang Press
Gary Yukl, 2002, Leadership in Organizations, New Jersey, Prenhallindo, cet.,5