(Tim Master
LKTI IV 2015)
A.
Konsep Dasar Micro-Teaching
1. Pengertian
Micro-Teaching
Micro berarti kecil, terbatas, sempit. Teaching berarti
mendidik atau mengajar. Micro-teaching berarti suatu kegiatan mengajar dimana
segalanya diperkecil atau disederhanakan. Apa yang dikecilkan atau
disederhanakan, yaitu :
a. Jumlah siswa
5-6 orang
b. Waktu mengajar
c. Bahan
pelajaran hanya mencakup satu atau dua hal yang sederhana
d. Keterampilan
mengajar difokuskan beberapa keterampilan khusus saja. (Latief, 2008:43)
Unsur micro merupakan ciri utamanya dan berusaha untuk
meyederhanakan secara sistimatis keseluruhan proses mengajar yang ada. Usaha
simplikasi ini didasari oleh asumsi bahwa : “sebelum kita dapat mengerti, dapat
belajar dan dapat melaksanakan kegiatan mengajar yang kompleks, kita harus
menguasai dulu komponen-komponen dari keseluruhan kegiatan yang ada.” Maka
dengan memperkecil murid, menyingkat waktu, mempersempit saran-saran serta
membatasi ketrampilan, perhataian dapat sepenuhnya diarahkan pada pembinaan
penyempurnaan ketrampilan khusus yang sedang dipelajari.
Menurut cooper and Allen (1971), pengajaran mikro (micro-teaching) merupakan
salah satu bentuk model praktek kependidikan atau pelatihan mengajar. Dalam
konteks yang sebenarnya, mengajar mengandung banyak tindakan, baik mencakup
teknis penyampaian materi, penggunaan metode, penggunaan media, membimbing
belajar, memberi motivasi, mengelola kelas, memberikan penilaian dan
seterusnya. Dengan kata lain, bahwa perbuatan mengajar itu sangatlah kompleks.
Oleh karena itu, dalam rangka penguasaan keterampilan dasar mengajar, guru
perlu berlatih secara parsial, artinya tiap-tiap komponen keterampilan
dasar mengajar itu perlu dikuasai secara terpisah-pisah (isolated).
Berlatih untuk menguasai keterampilan dasar mengajar seperti itulah yang
dinamakan micro-teaching (pengajaran mikro). Pengajaran mikro (micro-teaching)
merupakan suatu situasi pengajaran yang dilaksanakan dalam waktu dan jumlah
siswa yang terbatas, yaitu selama 5-20 menit dengan jumlah siswa sebanyak 3-10
orang.
2. Tujuan Operasional Teaching
Menurut Iskandar (2009), tujuan operasional
micro-teaching adalah sebagai sebagai berikut:
a. Mengembangkan
kemampuan mawas diri dan menilai orang lain.
b.
Memungkinkan adanya perbaikan dalam waktu singkat.
c.
Menanamkan rasa percaya pada diri dan bersifat terbuka
dengan kritik orang lain
d.
Mengembangkan sikap kritis
e.
Menanamkan kesadaran akan nilai ketrampilan mngajar dan
komponen-komponenya.
f.
Mengenal kelemahan-kelemahan dan keliruan–keliruan dalam
penampilan ketrampilan mengajar dan tahu penampilan yang baik.
g.
Memberi kesempatan guru untuk melihat dan mendengar
dirinya sendiri.
h.
Memberi kesempatan untuk mengikuti kembali kritik dan
diskusi caranya mengajar berulangkali.
i.
Memungkinkan untuk membuat model cara mengjar.
j.
Memungkinkan banyak orang yang dapat mengikuti proses
belajar dan tidak tentu waktunya.
k.
Merupakan medan untuk mencobakan sistem atau metode baru
untuk diteliti sebelum dikembangkan.
l.
Memberi kesempatan pendekatan analistis mengenai
ketrampilan dan strategi mengajar.
3. Materi
Kegiatan (Program Kegiatan)
Yang dimaksud materi disini adalah ketrampilan yang akan
dilatih melalui penampilan dalam micro teaching. Ada sepuluh ketrampilan khusus
yang dapat dilatih dalam micro teaching yang kesemuanya itu merupakan dalam
sebuah proses belajar mengajar.
Keteampilan khusus itu meliputi:
a. Keterampilan
membuka pelajaran
b.
Keteampilan memberi motivasi
c.
Ketrampilan bertanya
d.
Ketrampilan menerangkan
e.
Ketrampilan mendayagunakan media
f.
Ketrampilan menggunakan metode yang tepat
g.
Ketrampilan mengadakan interaksi
h.
Ketrampilan penampilan verbal dan non verbal
i.
Ketrampilan penjajagan/assesment.
j.
Ketrampilan menutup pelajaran.
4. Aspek-aspek
keterampilan yang harus ditampilkan sebagai berikut :
a. Keterampilan membuka
pelajaran
1)
Memperhatikan sikap dan tempat duduk siswa
2)
Memulai pelajaran setelah nampak siswa siap belajar.
3)
Cara mengenalkan pelajaran cukup menarik.
4)
Mengenalkan pokok pelajaran dengan menghubungkan
pengetahuan yang sudah diketahui oleh siswa (apersepsi).
5)
Hubungan antara pendahuluan dengan inti pelajaran nampak
jelas dan logis.
b. Keterampilan memberikan motivasi
1)
Mengucapkan “baik, bagus, ya” bila siswa menjawab atau mengajukan
pertanyaan
2)
Ada perubahan sikap non verbal positif pada saat
menenggapi pertanyaan/ jawaban siswa.
3)
Memuji dan memberi dorongan dengan senyum, anggukan atas
partisipasi siswa.
4)
Memberi tuntunan pada siswa agar dapat memberi jawaban
yang benar.
5)
Memberi pengarahan sederhana dan pancingan, agar siswa
memberi jawaban yang benar.
c. Keterampilan bertanya
1)
Pertanyaan guru sebagian besar telah cukup jelas
2)
Pertanyaan guru sebagian besar jelas kaitanya dengan
masalah.
3)
Pertanyaan ditunjukan keseluruhan kelas lebih dahulu,
baru menunjuk
4)
Guru menggunakan teknik -pause- dalam menyampaikan
pertanyaan
5)
Pertanyaan didistribusikan secara merata diantara para
siswa.
6)
Teknik menunjuk yang memungkinkan seluruh siswa siap.
d. Keterampilan menerangkan
1)
Keterangan guru berfokus pada inti pelajaran
2)
Keterangan guru menarik perhatian siswa
3)
Keterangan guru mudah ditangkap(dicerna) oleh siswa.
4)
Penggunaan contoh, ilustrasi, analogi, dan semacamnya
menarik perharian siswa.
5)
Guru memperhatikan dengan sungguh-sungguh respon siswa
yang berupa pertanyaan, reaksi, usul dan semacamnya.
6)
Guru menjelaskan respon siswa, sehingga siswa menjadi
jelas dan mengerti.
e. Keterampilan
mendayagunakan media
1)
Pemilihan media sesuai dengan PBM yang diprogramkan
2)
Teknik mengkomunikasikan media tepat.
3)
Organisasi mengkomunikasikan media menunjang PBM.
4)
Guru trampil menggunakan media.
f. Keterampilan menggunakan
metode yang tepat
1)
Ada kecocokan antara metode yang dipilih dengan tujuan
pengajaran.
2)
Ada kecocokan antara metode yang dipilih dengan materi
pelajaran dan situasi kelas.
3)
Dalam menggunakan metode telah memenuhi / mengikuti
sistematika metode tersebut
4)
Alat yang dapat menunjang kelancaran penggunaan metode
tersebut telah disiapkan.
5)
Menguasai dalam penggunaan metode tersebut.
6)
Aspek mengadakan interaksi
7)
Ada keseimbangan antara jumlah kegiatan guru (aksi)
dengan kegiatan siswa (reaksi) selama proses belajar mengajar.
8)
Ada pengaruh langsung yang berupa :
·
Informasi
·
Pengarahan
·
Menyalahkan atau membenarkan adalah cukup komunikatif
9)
Nampak ada partisipasi dari siswa yang berupa :
·
Mendengarkan
·
Mengamati
·
Menjawab
·
Bertanya
·
Mencoba
g.
Keterampilan penampilan verbal
non verbal
1) Gerakan guru
wajar dan bertujuan.
2)
Gerakan guru bebas
3)
Isyarat guru menggunakan tangan, badan, dan wajah cukup
bervariasi
4)
Suara guru cukup bervariasi, lemah dan keras.
5)
Ada pemusatan perhatian dari pihak siswa.
6)
Pengertian indera melihat dan mendengar berjalan dengan
wajar.
h.
Keterampilan
penjajagan/assesment
1) Menaruh
perhatian kepada siswa yang mengalami kesulitan.
2)
Adanya kesepakatan guru terhadap tanda siswa yang
mengalami salah pengertian
3)
Melakukan penjajagan kepada siswa tentang pelajaran yang
telah diterimanya
4)
Mencari/melakukan apa yang menjadi sumber terjadinya
kesulitan.
5)
Melakukan kegiatan untuk mengatasi/menunjukan kesulitan
siswa.
i.
Keterampilan menutup pelajaran
1) Dapat
menyimpulkan pelajaran dengan tepat.
2)
Dapat menggunakan kata-kata yang dapat membesarkan hati
siswa
3)
Dapat menimbulkan perasaan mampu ( sense of achievment)
dari pelajaran yang diproleh.
4)
Dapat mendorong siswa tertarik pada pelajaran yang telah
diterima.
5.
Urgensi Micro Teaching
Micro Teaching dapat digunakan dalam :
a. Pendidikan pre
service, yaitu bagi calon guru:
1) Sebagai
persiapan calon guru sebelum benar-benar mengajar di depan kelas.
2) Sebagai usaha
perbaikan penampilan calon guru.
b.
Pendidikan in service, yaitu bagi guru atau penilik.
1)
Untuk meningkatkan kemampuan guru mengajar rutin, supaya
menemukan dan mengetahui kelemahan-kelemahannya sendiri dan berusaha
memperbaikinya.
2)
Untuk meningaktkan kemampuan supervisor supaya ia tahu
apakah bimbingan, nasihat dan saran-saranya benar-benar efektif dalam membantu
peningkatan guru-gurunya.
3)
Untuk percobaan melaksanakan metode baru, sebelum metode
itu dilaksanakan dalam pembelajaran yang sebenarnya.
6.
Persiapan Penyelenggaraan
Dalam mempersiapkan penyelenggaraan micro teaching kita
harus menetapkan.
a. Waktu /
bilamana diadakan micro teaching
b. Tempat, dimana
kapan diguanakan, pelaksanaan micro teaching
c. Personalia
dalam micro teaching (calon yang praktek, peserta didik/siswa guru, orang yang
akan mengadakan observasi dan penilaian, ahli teknik alat rekaman)
d. Pola micro
teaching yang akan digunakan dan dikembangkan.
e. Rencana
kegiatan dan prosedur kegiatan micro teaching
f. Sarana dan
prasarana.
g. Follow up (dalam follow up
ditentukan kapan mengajar dikelas yang sebenarnya atau melaksanakan tugas
profesional guru)
B.
PENUTUP
Dilihat dari tujuan dan orgensinya, micro-teaching dapat dilaksanakan dalam
kegiatan diklat guru baik dalam kegiatan diklat reguler maupun diklat di tempat
kerja (DDTK). Hal ini dilakukan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan guru
mengajar dan sejauhmana implementasi pengetahuan yang mereka dapat dalam
diklat. Selain itu, kegiatan ini bisa dijadikan sharing pendapat antar guru
untuk memperbaiki dan atau meningkatkan performans mengajar guru.
Daftar Pustaka
Cooper and
Allen, 1971. Basic Teaching Skills. London: Oxford University Press.
Iskandar,
2009. Keterampilan Dasar Mengajar. Jakarta. Rineka Cipta.
Latief, 2008. Belajar
dan Pembelajaran. STKIP PGRI Banjarmasin
0 komentar:
Posting Komentar