Tambo
dalam arti yang sebenarnya adalah cerita sejarah negeri Minangkabau.
Tambo-tambo lama Minangkabau didapati hampir di tiap-tiap nagari di Minangkabau
yang ditulis dengan tangan dan memakai aksara Arab. Tambo-tambo tersebut sangat
dimuliakan orang, bahkan adakalanya dipandang sebagai pusaka keramat. Sehingga
yang memegangnya adalah kepala suku atau orang yang akan mengantikan kepala
suku itu. Tidak sembarang orang yang boleh membaca, bahkan untuk membacanya
harus didahului upacara khusus.
Beberapa
Saduran Naskah Tambo
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Dr. Edwar Djamaris, tambo-tambo yang banyak itu
ditulis dalam bahasa Melayu berbentuk prosa. Naskah Tambo Minangkabau ini
sebagian besar ditulis dengan huruf Arab-Melayu, dan sebagian kecil ditulis
dengan huruf latin. Naskah Tambo Minangkabau yang berhasil diketemukan sebanyak
47 naskah, masing-masing tersimpan di museum Nasional Jakarta sebanyak 10
naskah, di perpustakaan Universitas Leiden sebanyak 31 naskah, di perpustakaan
KITLV Leiden Belanda sebanyak 3 naskah, di perpustakaan SOAS Universitas London
1 naskah, dan di perpustakaan RAS London 2 naskah.
Ada
delapan saduran cerita Tambo Minangkabau yaitu:
- Curai Paparan Adat Lembaga Alam Minangkabau ( Dirajo 1979 dan 1984)
- Mustika Adat Alam Minangkabau (Dirajo 1953 dan 1979)
- Tambo Minangkabau ( Batuah 1956)
- Tambo Alam Minangkabau (Sango 1959)
- Tambo dan Silsilah Adat Alam Minangkabau (Basa 1966)
- Tambo Pagaruyung (Basri 1970a)
- Tambo Alam (Basri a970b)
- Himpunan Tambo Minangkabau dan Bukti Sejarah (Mahmoed 1978)
Tujuan
Penulisan Tambo
Secara
umum dapat dikemukakan bahwa fungsi utama cerita Tambo Minangkabau adalah untuk
menyatukan pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang,
adat, dan negeri Minangkabau. Hal ini dimaksudkan untuk mempersatukan
masyarakat Minangkabau dalam satu kesatuan. Mereka merasa bersatu karena
seketurununan, seadat dan senegeri.
A.A
Navis seorang Budayawan Minang mengatakan Kisah tambo yang dipusakai
turun-menurun secara lisan oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan
peristiwa secara samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu
yang kedongeng-dongengan. Adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung
berbagai versi karena tambo itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan
keperluan atau kehendak pendengarnya.
Subjektivitas
dan Falsafah Minang Dalam Penulisan Tambo
Terlepas
dari kesamaran objektivitas historis dari Tambo tersebut namun Tambo berisikan
pandangan orang Minang terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana dikatakan oleh
Navis, peristiwa sejarah yang berabad-abad lamanya dialami suku bangsa
Minangkabau dengan getir tampaknya tidaklah melenyapkan falsafah kebudayaan
mereka. Mungkin kegetiran itu yang menjadikan mereka sebagai suku bangsa yang
ulet serta berwatak khas. Mungkin kegetiran itu yang menjadi motivasi mereka
untuk menghapus sejarah masa silam dengan menciptakan tambo yang kedongeng-dongengan,
disamping alasan kehendak falsafah mereka sendiri yang tidak sesuai
dengan dengan falsafah kerajaan yang menguasainya. Mungkin kegetiran hidup
dibawah raja-raja asing yang saling berebut tahta dengan cara yang onar itu
telah lebih memperkuat keyakinan suku bangsa itu akan rasa persamaan dan
kebersamaan sesamanya dengan memperkukuh sikap untuk mempertahankan ajaran
falsafah mereka yang kemudian mereka namakan adat.
Cerita
Sentral Tambo Alam Minangkabau
Ringkasan
cerita dalam Tambo Alam Minangkabau adalah seputar pendirian masyarakat yang
kini dikenal sebagai Minangkabau. Cerita bermula dari pelayaran tiga orang anak
raja Iskandar Zulkarnain mencari wilayah baru. Salah seorang anaknya yaitu Sri
Maharajo Dirajo (yang menjadi titik sentral cerita) akhirnya mendarat di puncak
Gunung Marapi.
Dari sini lah Sri Maharajo Dirajo mulai membangun masyarakatnya yang diawali
dengan berpindah-pindah mencari tanah yang baik untuk ditempati dan ditanami.
Selanjutnya
keturunan-keturunan mereka yaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan
Sabatang menciptakan aturan-aturan adat untuk mengatur masyarakat yang semakin berkembang. Episode
selanjutnya diteruskan oleh tambo-tambo nagari yang tersebar di setiap nagari,
antara lain berkisah tentang asal muasal nenek moyang pendiri nagari-nagari
tersebut.
Naskah
Semacam Tambo di luar Minangkabau
Daerah-daerah
di Pesisir Timur Sumatera dan Alam Kerinci juga memiliki naskah-naskah semacam
tambo dengan tujuan yang sama, diantaranya:
- Sejarah Malayu (Sulalatus Salatin) yang secara harfiah berarti Istana Para Raja. Kitab ini dipercaya di Semenanjung Malaysia dan Sumatera Selatan, tokoh sentralnya adalah Sang Sapurba (Sang Nila Utama Sri Tribuana) atau Raja Natan Sang Sita Sangkala serta Demang Lebar Daun. Sang Sapurba dipercaya sebagai keturunan Iskandar Zulkarnain. Pada beberapa keterangan, Sang Sapurba ini disebut adalah orang yang sama dengan Dapunta Hyang Sri Jayanasa, pendiri Kerajaan Sriwijaya pada tahun 671 M.
- Tombo Lubuk Jambi, dipercaya oleh masyarakat Lubuk Jambi dan Kuantan. Tokoh utamanya masih Sang Sapurba, namun bedanya disini Sang Nila Utama disebut sebagai putra dari Sang Sapurba. Mitologi Lubuk Jambi ini berpusat pada cerita Kerajaan Kandis dan Kerajaan Koto Alang. Klimaks dari tombo ini adalah kekalahan Raja Aur Kuring dari Koto Alang dan menyingkirnya Patih dan Temenggung ke Gunung Marapi. Tombo Lubuk Jambi diceritakan turun-temurun secara rahasia atau dikenal sebagai Rahasio Penghulu.
- Tambo Alam Kerinci, dipercaya oleh masyarakat Kerinci. Tambo ini masih merunut pada Tambo Alam Minangkabau, meskipun tokoh utamanya telah bergeser menjadi Ninik Indar Bayang yang berangkat dari Pasumayan Koto Batu (Pagaruyung) menuju Alam Kerinci.
Masa
Penulisan Tambo Alam Minangkabau
Kebanyakan
naskah tambo ditulis setelah masuknya agama Islam ke Minangkabau. Hal ini
dibuktikan oleh tulisan pada naskah yang hampir seluruhnya ber-aksara Arab
Melayu. Penulisan naskah secara besar-besaran diperkirakan dimulai setelah
berakhirnya Perang Paderi
atau setelah perjanjian Sumpah Sati Marapalam. Sebelumnya cerita yang dituliskan pada naskah-naskah tambo
ini diturunkan secara turun-temurun dari para pemangku adat ke pemangku adat,
atau lebih dikenal dengan istilah warih nan bajawek.
Penghapusan
Sejarah di dalam Tambo
Sebagaimana
dikatakan oleh A.A Navis, Tambo berisikan pandangan orang Minang terhadap
dirinya sendiri. Di dalamnya ada subjektivitas untuk menyamarkan objektivitas
historis. Penyebabnya antara lain adalah sejarah Minangkabau yang di masa
lalunya pernah menjadi target penguasaan bangsa lain. Majapahit pernah
menyerang Minangkabau dan Aceh pernah menduduki Pesisir Barat nya selama
ratusan tahun. Subjektivitas dalam penulisan tambo ini akhirnya menghasilkan
berbagai versi tambo yang beredar dan menyebar di masyarakat. A.A Navis
selanjutnya mengatakan “kisah tambo yang dipusakai turun-menurun secara lisan
oleh orang Minangkabau hanya mengisahkan waktu dan peristiwa secara
samar-samar, campur baur, bahkan ditambahi dengan bumbu yang
kedongeng-dongengan”. Walaupun demikian para penulis tambo tampaknya sepakat
bahwa tambo yang ditulis haruslah menyatukan pandangan orang Minangkabau
terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri Minangkabau.
Penambahan
Hikayat Islam dan Penghapusan Unsur Hindu-Buddha
Dikarenakan
sebagian besar tambo ditulis setelah masuknya Islam, maka pada sebagian tambo
seperti Tambo Alam Minangkabau versi Datuak Sangguno Dirajo, hikayat-hikayat dan
kisah-kisah yang terkait Agama Islam mulai dicampurkan ke dalam tambo, misalnya
cerita soal Banjir Nabi Nuh, kisah Nabi Adam dan Puti Bidadari dari Sarugo. Pandangan keagamaan yang dianut Tarekat tertentu seperti
Syatariah juga diintegrasikan ke dalam tambo seperti konsep Nur Muhammad
yang dikenal dalam tasawuf.
Akibatnya
beberapa unsur-unsur Hinduisme dan Buddhisme yang dianut orang Minangkabau
sebelumnya dengan sengaja dihapus dari “cerita resmi”. Daerah Minangkabau
sendiri secara keagamaan termasuk unik. Berdasarkan catatan I Tsing yang
berkunjung tahun 671 ke Sriwijaya, ketika wilayah lain di Sumatera dikuasai
Sriwijaya yang menganut Budha Hinayana, wilayah Malayu
(proto Minangkabau) tidak diketahui menganut agama jenis apa. Namun dari
penghormatan penduduknya terhadap Gunung Marapi, ada indikasi bahwa agama yang
dianut adalah campuran Animisme dan salah satu cabang Hinduisme. Sedangkan dari
falsafah adat Lareh Koto Piliang dan Bodi Chaniago, ditemukan unsur-unsur norma
yang terdapat dalam ajaran Hinduisme dan Buddhisme.
Praktek
penghapusan unsur kedua kepercayaan masa lampau itu antara lain diwujudkan
dengan penciptaan arti baru dari istilah-istilah kelarasan dan nama-nama
nagari. Berikut adalah contohnya:
- Koto Piliang yang diberi arti baru yaitu Kata Pilihan, padahal akar katanya adalah Katta (benteng), Pili (dharma) dan Hyang (dewa), yang mencerminkan agama dan falsafah yang dianut pendirinya yaitu Hinduisme. Ada pula yang menerjemahkan Piliang dengan istilah banyak dewa. Pili mereka terjemahkan sebagai Pele/Poly (banyak). Tentu amat menggelikan ketika suku kata pertama diterjemahkan dari Bahasa Latin dan yang kedua dari Bahasa Sansekerta.
- Bodi Chaniago yang diberi arti baru Budi yang Berharga, padahal akar katanya adalah Boddhi (pohon boddhisatva) dan Can Yaga (tubuh yang bersila). Jadi dapat disimpulkan bahwa pendiri kelarasan ini adalah seorang penganut ajaran Buddha. Hal ini masih bisa dilacak dari falsafah-falsafah Bodi Chaniago dan ukiran-ukiran bermotif bunga teratai (simbol ajaran Buddha) pada rumah gadangnya.
- Pariangan yang diberi arti baru tempat beriang-riang, adahal akar katanya adalah Para Hyang (tempat dewa-dewa / tempat suci)
- Sangkayan yang diberi arti baru sangkak ayam, berasal dari kata Sanggha (jemaah) Hyang (dewa), pengikut dewa.
- Jambu Lipo yang diberi arti baru jan bu lupa, padahal asal katanya adalah Jambhu Dwipa (tanah asal)
- Dan banyak lagi seperti Sungayang (Sungai Hyang) dan Suruaso (Sri Suruwasa)
Meskipun
demikian tambo-tambo ini masih mengakui bahwa para nenek moyang yang datang ke
Minangkabau berasal dari sebagian daerah di India Selatan, meskipun tidak
menyebut agamanya. Di lain hal, gelar-gelar yang dipakai para pemangku adat dan
datuak masih mempertahankan istilah-istilah bernuansa India, semisal Maharajo
(Maharaj), Indo (Indra), Rajo Indo (Rajendra) dll. Sedangkan istilah datuak
sendiri adalah istilah asli Nusantara (bahasa Austronesia), yaitu berasal dari
kata Datu (pemimpin).
Penciptaan
Tokoh Sentral
Seperti
pada naskah-naskah serupa tambo lainnya di pada beberapa daerah yang telah
diulas di atas, Tambo Alam Minangkabau juga memerlukan seorang tokoh sentral
sebagai pemersatu. Tokoh ini adalah Ninik Sri Maharajo Dirajo yang disebut
sebagai putra bungsu dari Raja Iskandar Zulkarnain di Tanah Rum. Dua tokoh
pencipta aturan adat Minangkabau yaitu Datuak Katumanggungan dan Datuak
Parpatiah Nan Sabatang adalah keturunan dari tokoh sentral ini.
Disinyalir
kedua orang inilah yang menciptakan cerita dan tokoh sentral Sri Maharajo
Dirajo ini sebagai landasan konstitusi Minangkabau. Cerita tentang pelayaran
yang kemudian mendarat di puncak Gunung Marapi berkemungkinan besar juga
diciptakan mereka berdua. Ada perbedaan antara Duo Datuak ini dengan Sri
Maharajo Dirajo, mereka berdua adalah tokoh historis dalam artian meninggalkan
bukti-bukti fisik (batu batikam) dan non-fisik (aturan adat dan falsafah),
sedangkan Sri Maharajo Dirajo dan beberapa pengiriangnya masih merupakan tokoh
legendaris.
Kekacauan
Logika Antar Versi Tambo
Dengan
banyaknya versi tambo yang beredar, ditemukan beberapa ketidaksinkronan yang
menyolok dalam tambo, utamanya mengenai garis keturunan. Beberapa diantaranya:
- Tokoh Cati Bilang Pandai disebut dalam Tambo Datoek Toeah sebagai pandai mas yang membuat replika mahkota Sri Maharajo Dirajo yang dibuang saudaranya ke dalam laut. Cati Bilang Pandai kemudian dibunuh setelah menyelesaikan tugasnya. Anehnya pada kesempatan lain tokoh ini kembali muncul di Pariangan, dan menjadi suami kedua janda Sri Maharajo Dirajo. Disini dia disebut Indra Jati yang bergelar Cati Bilang Pandai.
- Harimau Campo, Kucing Siam, Kambing Hutan dan Anjing Mualim disebutkan sebagai pendekar-pendekar dan pendiri Silek Minang, namun di tempat lain keempatnya disebut sebagai perempuan pengiring yang sudah dianggap anak sendir oleh Sri Maharajo Dirajo. Cerita lain keempat orang ini melahirkan anak perempuan yang kemudian dikawinkan dengan 4 orang tukang perahu yang memperbaiki perahu Sri Maharajo Dirajo yang kandas di Pulau Jawa dekat Gunung Serang.
- Tokoh Datuak Katumanggungan disebut sebagai anak dari Sri Maharajo Dirajo dengan Indo Jalito (adik dari Datuk Suri Dirajo), dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang adalah anak dari Indra Jati (Cati Bilang Pandai) dan Indo Jalito. Pada kesempatan lain disebut ayah dari Datuak Katumanggungan adalah Sang Sapurba (Rusa Emas dari lautan).
- Tokoh Cati Reno Sudah, tiba-tiba muncul tanpa asal usul yang jelas, dan bertindak sebagai juru runding dengan seorang nahkoda dari laut. Ia diutus oleh Datuk Suri Dirajo dan memenangkan pertandingan adu kerbau yang terkenal itu dan dua teka-teki yang diajukan sang nahkoda.
- Tokoh Sang Sapurba (Rusa Emas dari lautan) atau Raja Natan Sang Sita Sangkala. Tokoh ini disebut juga dalam mitologi Palembang sebagai menantu Demang Lebar Daun. Entah sejak kapan pula tokoh ini muncul dalam Tambo Alam Minangkabau. Dalam buku Minangkabau Tanah Pusaka, disebutkan Datuk Suri Dirajo mengawinkan Sang Sapurba ini dengan adiknya yaitu Indo Jalito. Padahal Indo Jalito adalah istri dari Ninik Sri Maharajo Dirajo pada tambo-tambo arus utama. Otomatis dalam versi ini Sang Sapurba menjadi ayah dari Datuak Katumanggungan. Versi ini juga menyebutkan Sang Sapurba datang ratusan tahun setelah meninggalnya Ninik Sri Maharajo Dirajo. Lucunya yang memerintah pada masa itu adalah Datuk Suri Dirajo, orang yang sama yang ada di perahu Ninik Sri Maharajo Dirajo. Apakah Datuk Suri Dirajo bisa berumur ratusan tahun atau yang memerintah di zaman Sang Sapurba hanya keturunannya yang memakai gelar yang sama, tidak ada penjelasan lebih lanjut. Untuk membuat cerita versi ini rujuk dengan arus utama disebutkan pula bahwa Sang Sapurba akhirnya diberi gelar Sri Maharaja Diraja, gelar yang sama dengan nenek moyang pertama orang Minangkabau. Selanjutnya dibuatkan tempat ibadah dan candi untuknya ditempat yang kemudian bernama Pariangan (Par Hyangan = tempat menyembah dewa). Selanjutnya adalah kisah heroik ketika Sang Sapurba dapat mengalahkan Naga Sikati Muno (Shati Muna dalam mitologi Palembang). Setelah ini baru Sang Sapurba memerintahkan pencarian tanah-tanah baru untuk pemukiman dan berdirilah Nagari Sungai Tarab, Bungo Satangkai dll. Cerita selanjutnya sama. Dampak dimasukkannya tokoh Sang Sapurba ini kedalam tambo adalah terjadinya pergeseran waktu yang luar biasa antara mendaratnya Ninik Sri Maharajo Dirajo dengan pendirian Nagari Sungai Tarab. Inilah perbedaan yang amat mendasar antara tambo yang memuat Sang Sapurba dan yang tidak memuatnya.
- Tokoh Adityawarman. Dalam tambo versi Datuak Sangguno Dirajo Adityawarman dikisahkan sebagai seorang bergelar Sri Paduka Berhala yang datang dari laut menemui datuk yang bertiga di Pariangan (Lagundi Nan Baselo). Disaat itu timbul perbantahan diantara ninik yang bertiga mengenai Adityawarman. Datuak Katumanggungan mengatakan bahwa dia adalah raja, sedangkan menurut Datuk Parpatiah Nan Sabatang orang itu bukan raja melainkan mentri saja, dan menurut Datuk Sri Maharaja Nan Banego Nego orang itu hanya seorang utusan raja. Akhirnya datuk yang berdua menurut kepada apa yang dikatakan Datuk Katumanggungan karena beliau berniat akan mengambil orang itu sebagai semendanya. Adityawarman kemudian dikawinkan dengan adit Datuk Katumanggungan yang bernama Puti Reno Mandi, dan diberi gelar Sri Maharaja Diraja pula. Tambo versi ini akan membuat kesimpulan bahwa datuk yang berdua hidup sezaman dengan Adityawarman. Agaknya versi ini berusaha mencocok-cocokkan tambo dengan prasasti Padang Roco yang memuat nama Dewa Tuhan Perpatih yang diterjemahkan sebagai Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Tambo ini juga berusaha mencocok-cocokkan tahun peristiwa ini dengan masa Ekspedisi Pamalayu yang dicatat dalam Hikayat Raja-raja Pasai. Dalam hikayat tersebut disebutkan tokoh Patih Sewatang dari Minangkabau berhadapan dengan Patih Gadjah Mada dari Majapahit. Konsekuensi dari memasukkan penafsiran Sri Paduka Berhala sebagai Adityawarman adalah bergesernya latar cerita Ninik Sri Maharaja Diraja ke sekitar tahun 1000 M (Periode Dharmasraya), akibatnya hubungan keterkaitan Minangkabau dengan Kerajaan Malayu Tua (Minanga) yang eksis tahun 671 menjadi berantakan.
- Tokoh Dang Tuanku. Dang Tuanku sebenarnya tokoh dalam Kaba Cindua Mato, namun beberapa versi tambo dan cerita rakyat menafsirkan Dang Tuanku sebagai Adityawarman, dan Dara Jingga ibunya sebagai Bundo Kanduang. Dalam Kaba Cindua Mato tersebut ada peperangan antara Pagaruyung (sudah berbentuk kerajaan) dengan Sungai Ngiang (Kuantan Singingi) dimana berakhir dengan kekalahan Pagaruyung. Penafsiran ini agak sulit diterima akal karena Adityawarman adalah seorang panglima militer yang kuat pada zaman itu. Apalagi ia dididik di Majapahit dan pernah terlibat dalam pemadaman beberapa pemberontakan. Namun jika dihubungkan dengan Tombo Lubuk Jambi maka menurut mereka kisah Dang Tuanku ini terjadi pada abad ke 8 Masehi, sezaman dengan Kerajaan Koto Alang.
- Tokoh Indo Jalito. Indo Jalito punya banyak penafsiran pula, ia dikisahkan sebagai istri Ninik Sri Maharaja Diraja, sedangkan di lain tempat sebagai istri Sang Sapurba, bahkan ada yang menganggap dia adalah Bundo Kanduang itu sendiri.
- Tokoh Ananggawarman, putra dari Adityawarman. Dalam Tambo Pagaruyung tokoh ini disebut kawin dengan Puti Reno Dewi ( anak Datuk Katumanggungan dengan Puti Samputi). Mereka dikaruniai tiga anak perempuan yaitu Puti Panjang Rambut, Puti Salareh Pinang Masak dan Puti Bungsu. Sejak Ananggawarman mangkat tahun 1417 kepemimpinan di Pagaruyung khususnya Raja Alam telah dipegang oleh Datuk Bandaro Putih – Tuan Titah IV yang juga bergelar Rajo Bagewang I yang kemudian diteruskan oleh Yang Dipertuan Sutan Bakilap Alam.
Menyoal
Tokoh Asing di dalam Tambo
Dari
berbagai versi tambo tersebut terjadilah sebuah jalinan cerita yang tidak logis
baik secara alur, genealogis maupun latar. Sumber kekacauan tersebut tidak lain
adalah keinginan sebagian penulis dan penafsir tambo untuk mencocok-cocokkan
tambo dengan data-data yang diambil dari prasasti dan legenda masyarakat lain.
Dari tokoh-tokoh yang dipaparkan di atas, setidaknya ada 3 tokoh besar yang
sebenarnya tokoh ‘asing’ dalam tambo yaitu Sang Sapurba, Adityawarman dan
Ananggawarman. Mereka dibawa ke dalam tema sentral cerita tambo oleh dua
kelompok berikut:
- Kelompok Pengagung Budaya Malayu Tua. Kelompok ini merasa perlu untuk mengintegrasikan Tambo Alam Minangkabau dengan mitologi dan sejarah masyarakat di Greater Melayu (Pesisir Timur, Sriwijaya, Malaka, Jambi). Analisa kelompok ini pada umumnya didukung oleh keturunan Minangkabau yang tinggal di Malaysia. Konsep Greater Melayu ini meyakini semua kerajaan yang pernah berdiri di Tanah Melayu, yaitu eks Sundaland (termasuk di dalamnya Minangkabau) saling terhubung dan kait berkait secara silsilah dari awal abad pertama Masehi sampai sekarang. Tokoh Sang Sapurba adalah simpul yang diperlukan untuk penyatuan kisah-kisah yang bertebaran di seluruh Tanah Melayu. Di Palembang ia dijadikan menantu Demang Lebar Daun, di Bintan dia mengawinkan anaknya dengan putri Raja Bintan, di Kuantan dia diangkat jadi raja dan di Minangkabau dia “dijerat”, dijadikan semenda oleh Datuak Suri Dirajo. Pengintegrasian Sang Sapurba ke dalam Tambo Alam Minangkabau dilakukan dengan cara menafsirkan Rusa Emas yang datang dari laut sebagai dirinya.
- Kelompok Pengagung Kerajaan Pagaruyung (keluarga bangsawan Pagaruyung). Kelompok ini mengeluarkan Tambo Pagaruyung pada tahun 1970 yang sudah memuat nama Adityawarman. Sebelum penemuan Prasasti Padang Roco dan Arca Amoghapasa di Nagari Siguntur pada tahun 1911, tidak ada ditemukan kemunculan nama Adityawarman dalam tambo-tambo yang beredar di Minangkabau. Kelompok Pagaruyung sangat bersemangat merevisi tambonya (atau lebih tepat mengarang tambonya) setelah satu persatu batu basurek (prasasti) yang dibuat Adityawarman ditemukan dan dapat diterjemahkan. Seluruh isi Tambo Pagaruyung kemudian dikonsep ulang supaya cocok dengan fakta-fakta sejarah yang terukir di prasasti. Bahkan teori terbaru dari kelompok ini menyebutkan bahwa Kerajaan Pagaruyung pada dasarnya adalah fusi/persatuan dari 3 dinasti kerajaan yang telah ada sebelumnya, yaitu Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Dharmasraya dan Kerajaan Gunung Marapi. Ketiganya di bawah Adityawarman diintegrasikan dalam satu kesatuan yaitu Kerajaan Malayapura. Tampaknya kelompok Pagaruyung berusaha pula rujuk dengan kelompok Greater Malayu dengan menggandeng Sriwijaya sebagai salah satu nenek moyangnya. Sang Sapurba oleh beberapa penafsir juga diakui sebagai nama asli dari Dapunta Hyang, pendiri Kerajaan Sriwijaya yang masih misteri itu.
Penutup
Dari
ulasan diatas dapat kita pahami sebab musabab terjadinya kekacauan logika dan
versi yang berupa-rupa dari tambo yang beredar di Minangkabau. Menurut A.A
Navis, adalah wajar bila kisah tambo itu mengandung berbagai versi karena tambo
itu yang diceritakan oleh pencerita sesuai dengan keperluan atau kehendak
pendengarnya. Dus pada akhirnya kita pun sudah tahu bahwa tambo bukanlah
sejarah, melainkan semacam kitab konstitusi yang dibuat pertama kali oleh
Datuak Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang untuk menyatukan
pandangan orang Minangkabau terhadap asal usul nenek moyang, adat, dan negeri
Minangkabau itu sendiri.
Upaya
mencocok-cocokkan tambo dengan sejarah etnik lain dan prasasti tidak akan serta
merta membuat tambo menjadi dokumen sejarah, apalagi jika upaya tersebut
dicampuri pula dengan egoisme kelompok atau egoisme keilmuan. Usaha ini hanya
akan menjadi sebuah karya yang prematur yang akan ditemukan cacatnya di
kemudian hari, bak kata pantun adat berikut ini:
Bulek ruponyo daun nipah
Buleknyo nyato bapasagi
Diliek rupo indak barubah
Dibukak tambuak tiok ragi
Marilah
kita mulai penelitian baru dengan menempatkan tambo (dan juga warisan kehidupan
yang lain seperti nama tempat, bahasa, adat kebiasaan, arsitektur, musik,
kuliner, kesenian, pakaian) sebagai pembangun konteks, bukan cetak biru sejarah
yang akan direka-reka.
Catatan
Kaki:
Sang
Sapurba dalam Mitologi Kuantan
Ketika
Sang Sapurba datang, Kerajaan Kuantan tidak memiliki raja. Oleh sebab itu,
kedatangan Sang Sapurba disambut gembira oleh rakyat Kuantan, baik para
pembesar, pemuka masyarakat, maupun rakyat jelata. Kemudian, mereka sepakat
mengangkat Sang Sapurba menjadi raja, dengan persyaratan, Sang Sapurba bersedia
membunuh Naga Sakti Muna yang telah merusak ladang milik rakyat
Sang
Sapurba kemudian memerintahkan hulubalangnya, Permasku Mambang untuk membunuh
sang naga dengan berbekal sundang (pedang modern) pemberian Sang Sapurba.
Hulubalang Permasku Mambang berhasil membunuh naga tersebut, sehingga Sang
Sapurba diangkat menjadi raja di Kuantan dengan gelar Trimurti Tri Buana.
Sumber:
0 komentar:
Posting Komentar